Jumat, 27 November 2020

 Quantum Teaching Learning untkk Menigkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan itu sendiri, karena pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemajuan bangsa. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas.Oleh karena itu, haruslah diimbangi dengan pendidikan yang berkualitas. Kegiatan pembelajaran merupakan proses utama untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Pada hakekatnya, kegiatan tersebut dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pengalaman agar peserta didik belajar. Salah satu pelaksana tercapainya pendidikan yang berkualitas adalah guru. Guru perlu merubah sikap dan pola pembelajaran yang dilakukan, 

      Pembelajaran adalah proses yang menekankan pada membelajarkan siswa yang dilakukan oleh guru. Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik (Bahri, 2010). Proses pembelajaran pada prinsipnya merupakan pengembangan keseluruhan sikap kepribadian khususnya mengenai aktivitas dan kreativitas peserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam implementasinya masih banyak kegiatan pembelajaran yang mengabaikan aktivitas dan kreativitas peserta didik tersebut. Hal ini disebabkan oleh model dan system pembelajaran yang lebih menekankan pada penguasaan kemampuan intelektual (kognitif) saja serta proses pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered learning) di kelas, sehingga keberadaan peserta didik di kelas hanya menunggu uraian guru, kemudian mencatat dan menghafalkannya. Dalam proses belajar mengajar, peserta didik dituntut untuk aktif. Pembelajaran aktif adalah suatu istilah yang memayungi beberapa model pembelajaran, yang memfokuskan tanggung jawab proses pembelajaran.

    Salah satu yang berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran siswa adalah kemampuan berpikir. Salah satu kemampuan berpikir yang penting dikuasai oleh siswa adalah Kemampuan berpikir tingkat tinggi (KBBT). Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu tahapan berpikir yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari dan setiap siswa diarahkan untuk memiliki pola berpikir tingkat tinggi tersebut sebab kemampuan berpikir tingkat tinggi membuat seseorang dapat berpikir kritis. Kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan menghubungkan, memanipulasi dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk berpikir kritis dan kreatif dalam upaya menentukan keputusan dan memecahkan masalah pada situasi baru (Riski, 2013) 

        Kemampuan berpikir tingkat tinggi atau sering disebut juga dengan Higher Order Thinking Skill ( HOTS), dapat membuat seorang individu menafsirkan, menganalisis atau memanipulasi informasi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat diketahui dari kemampuan siswa pada tingkat analisis, sintesis dan evaluasi (Kawawung, 2011). Selain itu, kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengingat saja, akan tetapi memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif (Rosnawati, 2009). Apabila peserta didik memiliki kemampuan berpikir kreatif dan kritis maka dapat mengembangkan diri dalam membuat keputusan, penilaian dan menyelesaikan masalah (Hidayat, 2012). Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik adalah ketika peserta didik dihadapkan dengan suatu masalah yang belum mereka temui sebelumnya, disinilah proses berpikir mereka akan muncul. Dengan demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik akan terlatih (Rofiah, Aminah, & Ekawati, 2013). Maka dari itu perlu diadakan pembelajaran yang dapat melatih kemampuan berpikir peserta didik. Kondisi pembelajaran sebelumnya hendaknya diperbaiki, salah satunya dengan menggunakan metode quantum teaching learning.
        
        Quantum teaching merupakan konsep yang diturunkan dari quantum learning yang mempunyai motto membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Quantum teaching merupakan sebuah strategi untuk mempraktekan quantum learning diruang kelas, berusaha memberikan kiat-kiat, petunjuk dan seluruh proses yang dapat menghemat waktu,mempertajam peamahaman dan daya ingat, membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.


B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Quantum Teaching dan learning?
  2. Apa pengertian berpikir kritis?
  3. Bagaimana petunjuk pelaksanaan Quantum Teaching dan learning?
  4. Bagaimana penerapan Quantum Teaching dan learning dalam pembelajaran?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian Quantum Teaching dan learning.
  2. Untuk mengetahui pengertian berpikir kritis
  3. Untuk mengetahui petunjuk pelaksanaan Quantum Teaching dan learning.
  4. Untuk mengetahui penerapan Quantum Teaching dan learning dalam pembelajaran.


BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian Quantum Teaching Learning

        Teaching dan Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Sementara itu, Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Teaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.

        Dalam Teaching, guru sangat diharapkan sebagai aktor yang mampu memainkan berbagai gaya belajar anak, mengorkestrakan kelas, menghipnotis kelas dengan daya tarik, dan menguatkan konsep ke dalam diri anak. Prinsipnya, bawalah dunia guru ke dunia siswa dan ajaklah siswa ke dunia guru. Dalam Teaching, tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang belum berkembang karena titik sentuhnya belum cocok dengan titik sentuh yang diberikan guru. Berarti, guru perlu penyesuaian sesuai dengan kondisi siswa dengan berpedoman pada segalanya bertujuan, segalanya berbicara, mengalami sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan rayakan.

        Learning merupakan strategi belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain sisiwa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan. Caranya, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat mendalami sesuatu. Banyak orang yang telah merasakan hasilnya setelah mengkaji sesuatu dengan cara Learning. Segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkan.

        Konsep itu sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun de Porter. Dilakukan sebuah penelitian untuk disertasi doktroral pada 1991, yang melibatkan sekitar 6.042 responden. Dari penelitian itu, Super Camp berhasil mendongkrak potensi psikis siswa. Antara lain peningkatan motivasi 80%, nilai belajar 73% , meningkatkan harga diri 84% dan melanjutkan penggunaan keterampilan 98%. Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:

E = mc2

E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)

M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik)

c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)

Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar pada peserta didik.


B. Berpikir Kritis

        Berpikir kritis merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dikembangkan di sekolah, guru diharapkan mampu merealisasikan pembelajaran yang mengaktifkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada siswa. Kemampuan berpikir kritis sebagai bagian dari kemampuan berpikir matematis amat penting mengingat dalam kemampuan ini terkandung kemampuan memberikan argumentasi, menggunakan silogisme, melakukan inferensi, melakukan evaluasi, dan kemampuan menciptakan sesuatu dalam bentuk produk atau pengetahuan baru yang memiliki ciri orisinalitas. Kemampuan berpikir kritis sebagai cara berpikir reflektif berdasarkan nalar perlu ditumbuhkan kembangkan melalui kegiatan pembelajaran matematika, yang dititikberatkan pada sistem, struktur, konsep, prinsip, serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. Upaya ini membutuhkan pola pikir deduktif logika matematika yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu situasi melalui abstraksi atau generalisasi.

        Johnson, Elaine B. (2006:187) meyatakan ”Berpikir kritis adalah berpikir dengan baik, dan merenungkan tentang proses berpikir merupakan bagian dari berpikir dengan baik”. Pengertian ini, mensyaratkan tinjauan ulang terhadap setiap proses berpikir yang kita lakukan. Sejalan dengan pendapat Johnson, Elaine B., menurut Rakhmat, Jalaludin (2005;69) ’’Berpikir evaluatif adalah berpikir kritits, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan’’. Menurut pendapat Ennis (Sulianto, Joko, 2010:6) yang secara singkatnya menyatakan bahwa terdapat enam unsur dasar dalam berpikir kritis, yaitu fokus (focus), alasan (reason), kesimpulan (inference), situasi (situation), kejelasan (clarity), dan tinjauan ulang (overview). Dari pendapat ini dapat dijelaskan bahwa tahap-tahap dalam berpikir kritis adalah sebagai berikut: 

a. Fokus (focus). Dalam memahami masalah adalah menentukan hal yang menjadi fokus (Focus) dalam masalah tersebut. Hal ini dilakukan agar pekerjaan menjadi lebih efektif, karena tanpa mengetahui fokus permasalahan, kita akan membuang banyak waktu. Menurut Monalisa (2010:2) keterampilan memfokuskan masalah berhubungan dengan kegiatan melakukan pemilihan bagian informasi tertentu dan mengabaikan yang lainnya. Antara lain seperti menjelaskan ketidakcocokan atau situasi membingungkan 

b. Alasan (reason). Apakah alasanalasan yang diberikan logis atau tidak untuk disimpulkan seperti yang tercantum dalam fokus. 

c. Kesimpulan (inference). Jika alasannya tepat, apakah alasan itu cukup untuk sampai pada kesimpulan yang diberikan? 

d. Situasi (situation). Mencocokkan dengan situasi yang sebenarnya. 

e. Kejelasan (clarity) yaitu mengungkapkan sesuatu secara jelas. Clarity (kejelasan) dapat diimplemantasikan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti: apa yang anda maksud, akankah sebuah kata atau kata-kata akan membingungkan jika digunakan dalam cara berbeda, dapatkah anda memberikan contoh, dan dapatkah anda memberikan kasus yang serupa, tetapi bukan contoh. 

f. Tinjauan ulang (overview). Artinya kita perlu mencek apa yang sudah ditemukan, diputuskan, diperhatikan, dipelajari dan disimpulkan. 

        

C. Petunjuk Pelaksanaan Quantum Teaching

Beberapa petunjuk yang setidaknya mampu untuk dijadikan pedoman bagi seorang guru untuk menerapkan Quantum Teaching dalam ruang kelas. Ada beberapa petunjuk yang bisa untuk dimanfaatkan yaitu:

  1. Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira ( tersenyum).
  2. Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/ kegembiraan. “learning is most effective when it’s fun”.
  3. Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan:
  • Pengaturan meja dan kursi diubah dengan berbagai bentuk.
  • Beri tanaman, hiasan lain di luar atau di dalam kelas.
  • Pengecatan warna ruangan, meja dan kursi yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas.
  • Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan. Kata mutiara pemacu semangat.

4. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh pada proses belajarnya. Guru dapat mempengaruhi suasan emosi siswa dengan cara:

  • Kegiatan- kegiatan pelepas stress.
  • Aktivitas- aktivitas yang menambah kekompakan.
  • Menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan melalui bimbingan konseling.

5. Memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung.

6. Sikap guru kepada peserta didik:

  • Pengarahan “ apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan.
  • Perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat.
  • Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik.
  • Memberikan stimulus yang mendorong hasil kerja peserta didik.
  • Mendukung peserta didik 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung.
  • Memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran (Nana Sudjana, 1994).

7. Terapkan delapan kunci keunggulan ke dalam rencana pelajaran setiap hari.

  • Integritas: bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh.
  • Kegagalan awal kesuksesan: pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang anda butuhkan untuk sukses.
  • Bicaralah dengan niat baik: berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan tulus.
  • Hidup di saat ini: pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan sebaik- baiknya.
  • Komitmen: penuhi janji dan kewajiban, laksakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
  • Tanggung jawab: bertanggungjawab atas tindakan anda.
  • Sikap luwes dan fleksibel : bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu anda memperoleh hasil yang diinginkan.
  • Keseimbangan: jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa anda. Sisihkan waktu untuk membangun memelihara tiga bidang ini.

8. Guru yang seorang Quantum Teacher mempunyai ciri- ciri dalam berkomunikasi yaitu:

  • Antusias menampilkan semangat hidup.
  • Berwibawa: menggerakan orang.
  • Positif: melihat peluang dalam setiap saat.
  • Supel: mudah menjalin hubungan dengan peserta didik.
  • Humoris: berhati lapang untuk menerima kesalahan.
  • Luwes: menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
  • Menerima : mencari dibalik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai- nilai inti.
  • Fasih: berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur.
  • Tulus: memiliki niat dan motivasi positif.
  • Spontan: dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
  • Menarik dan tertarik
  • Menganggap peserta didik “mampu”: percaya akan keberhasilan peserta didik.
  • Menetapkan dan memelihara harapan tinggi.

9. Semua peserta didik diusahakan untuk memiliki modul/ buku sumber belajar.

10. Dalam melakukan penilaian guru harus berorientasi pada beberapa hal diantaranya adalah:

  • Acuan/ patokan. Semua kompetensi perlu dinilai sesuai dengan acuan criteria berdasarkan indicator hasil belajar.
  • Ketuntasan belajar.
  • Metode penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain:

– Tes tertulis.

– Observasi

– Portofolio

– Demonstrasi


D.  Penerapan Quantum Teaching dan Quantum Learning dalam Pembelajaran

Dalam pelaksanaannya Quantum Teaching melakukan langkah- langkah pengajaran dengan enam langkah yang tercermin dalam istilah TANDUR , yaitu:

  1. Tumbuhkan minat dengan memuaskan, yakni apakah manfaat yang akan diperoleh dari pelajaran tersebut bagi guru dan muridnya. Tumbuhkan minat dengan memuaskan “ Apakah Manfaatnya Bagiku ( AMBAK )”. AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat- akibat suatu keputusan.
  2. Alami, yakni ciptakan dan datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Jangan sampai guru menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk dimengerti, karena ini akan membuat siswa merasa bosan dalam belajar.
  3. Namai, untuk ini harus disediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi si anak. Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada kompetensi dasar tertentu, mereka diajak menulis di kertas, memberikan nama apa saja yang telah mereka peroleh.
  4. Demontrasikan, yakni sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Setelah siswa mengalami belajar akan sesuatu, beri kesempatan kepada mereka untuk mendemontrasikan kemampuannya karena siswa akan mampu mengingat 90% jika siswa itu mendengar, melihat, dan melakukannya.
  5. Ulangi, yakni tunjukkan kepada para pelajar tentang cara- cara mengulang materi dan menegaskan aku tahu bahwa aku memang tahu ini!. Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep multi kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa.
  6. Rayakan, yakni pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Perayaan adalah ekspresi dari kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik (Deporter, 2004).

Langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep quantum learning dengan cara:

  1. Kekuatan Ambak

Ambak yakni Apa Manfaatnya Bagiku motivasi yang  didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka keinginan untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru agar siswa dapat mengidentifikasi dan mengetahui manfaat  atau makna dari setiap pengalaman  atau  peristiwa yang dilaluinya dalam hal ini adalah proses belajar.

  1. Penataan lingkungan belajar

Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa aman dan nyaman, dengan perasaan aman dan nyaman ini akan menumbuhkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Dengan penataan lingkungan belajar yang  tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa.

  1. Memupuk sikap juara

Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa, seorang guru hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian atau hadiah pada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, tetapi jangan pula mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan merasa lebih dihargai.

  1. Bebaskan gaya belajarnya

Ada berbagai macam gaya belajar yang dipunyai oleh siswa, gaya belajar tersebut yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Dalam  quantum  learning  guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan janganlah terpaku pada satu gaya belajar saja.

  1. Membiasakan mencatat

Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika  siswa tidak hanya bisa  menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa itu sendiri. Hal  tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri, simbol-simbol tersebut dapat berupa tulisan.

  1. Membiasakan membaca

Salah satu aktivitas yang cukup  penting adalah membaca. Karena  dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.

  1. Jadikan anak lebih kreatif

Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan senang bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik siswa akan mampu menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.

  1. Melatih kekuatan memori

Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar  anak, sehingga siswa perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik (Miftahul, 2010).


BAB III
PENUTUP


        Teaching dan Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Sementara itu, Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Teaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Virtual Experiments      Praktikum virtual merupakan serangkaian alat-alat laboratorium yang berbentuk perangkat lunak/komputer berbasis mul...