Model Pembelajaran Berbasis Inovasi disruptif (Disruptive Innovation)
Inovasi disruptif (Disruptive Innovation)
- Adanya komputer untuk mengatur apa yang akan dilihat dan didengar, dan apa yang akan berinteraksi dengan penggunanya
- Adanya link-link yang menghubungkan informasi-informasi yang tersedia
- Adanya tool-tool navigasi bagi pengguna agar dapat menggunakan informasi yang tersedia
- Adanya prosedur bagi pengguna untuk mengumpulkan, memproses dan menyampaikan informasi dan ide-idenya.[2]
Berdasarkan definisi di atas, dapat dikategorikan bahwa multimedia merupakan salah satu bentuk distruction dalam pendidikan terutama di dunia pendidikan dasar, SD dan SMP. Dengan multimedia, guru dan siswa diharapkan mampu menguasai dan menggunakan teknologi yang berkaitan dengan itu, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sementara inovasi yang dianggap sebagai disruptive memiliki arsitektur sistem yang berbeda jauh dari sebelumnya, walau komponen yang dipakai (mungkin) tidak berbeda jauh. Selain itu, disruptive innovation juga harus memenuhi persyaratan lain, yaitu kinerjanya sering lebih rendah dari kinerja produk yang memakai arsitektur lama pada waktu pertama kali diperkenalkan. Namun seiring dengan waktu, kinerja disruptive innovation akan meningkat lebih pesat sehingga akhirnya berhasil menyalib (atau setidaknya mendekati) kinerja arsitektur rivalnya. Disruptive innovation seperti pembelajaran multimedia ini dapat kita gunakan untuk memecahkan kejenuhan dalam pembelajaran konvensional yang berlangsung selama ini. Siswa sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekuen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi mempunyai resistansi.
Inovasi Dalam Layanan Pendidikan Dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari ekonomi, tranportasi, jula beli, dan berbagai aspek lainya telah melakukan berbagai inovasi sehingga mampu tetap eksis dan berkembang bahkan menemukan inovasi baru dalam menghadapi tantangan global dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Jika sebuah lembaga pendidikan tidak melakukan inovasi maka di era distruktif ini akan sangat mungkin lembaga pendidikan tersebut akan dijauhi oleh para konsumenya. Pendidikan harus mulai melakukan inovasi-inovasi dengang pemanfaatan Teknologi, mulai dari segi layanan, administrasi, akademik, kurikulum sampai pada pengembangan minat dan bakat siswa
Inovasi dalam pendidikan bisa dilakukan dari sisi layanan untuk mendapatkan rekap aktivitas siswa secara real time, legalisir atau validasi transkrip maupun ijazah dengan mudah, peniliaan yang lebih terbuka, ujian masuk maupun ujian dalam proses pembelajaran yang dapat dilakukan secara mandiri dan tidak terbatas pada ruang dan waktu, kartu pelajar berbasis digital yang dapat terkoneksi ke berbagai layanan di disekolah.
Selain itu, konsep disruptive innovation tidak selalu harus menciptakan produk baru melainkan membuat konsumen mendapatkan layanan yang lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Berbagai inovasi di atas menjadikan siswa dan komsumen pendidikan akan memudahkan mereka untuk mendapatkan layanan dari pihak sekolah terutama pada saat jarak jauh.
Selain itu pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam dunia pendidikan akan mampu memaksimalkan peran pihak sekolah steakholder dan orangtua dalam kaitannya dengan peningkatan layanan pendidikan. Sehingga merubah cara lama dimana system pendidikan yang konvensional ditinggal menuju system pendidikan yang inovatif dan mampu menjaring partispasi aktif orangtua dan masyarakat dalam pengawasan dan peran sertanya dalam pendidikan.
Inovasi dalam layanan pendidikan ini akan memudahkan penyampaian informasi dari lembaga pendidikan dan memudahkankan konsumen pendidikan untuk dapat mengakses informasi serta mendaptkan update yang real time dari pihak sekolah dari waktu-kewatu.
MOOCs Pemicu Munculnya Diskrutif Perguruan Tinggi
Untuk kebanyakan mahasiswa Universitas, ini bukan merupakan skenario baru; banyak mahasiswa memiliki kelas yang dapat mereka dapatkan dari rumah dengan kenyamanan. Sudah banyak univeristas di seluruh dunia menyediakan presentasi online untuk kelas-kelas popular, beberapa presentasi ini juga tersedia untuk umum.
MOOCs (Massive Online Open Courses) telah mengembangkan batas-batas pendidikan yang lebih tinggi. MOOCs merupakan metode belajar-jarak-jauh dengan skala-besar, gratis dan bisa diakses siapa saja dan di mana saja mereka berada di dunia. Mereka membantu menyediakan kursus-kursus level-universitas untuk siapa saja yang kurang mampu atau cukup berkenan untuk mendapatkan gelar sarjana mereka di institusi level unggul atau berkuliah di luar.
MOOCs disediakan di beberapa platform; platform yang umum meliputi, Coursera, Udacity, edx, Akademi Khan, dan Duolingo. Penyelenggara jurusan MOOCs ini ditawarkan oleh universitas-universitas terkemuka dari seluruh dunia. Jurusan-jurusan ini biasanya memiliki waktu yang sama dengan semester dan kurikulum mahasiswa yang mengambil jurusan tersebut sepenuhnya di universitas. Banyak professor mengajar jurusan-jurusan ini, dengan dukungan dari universitas, berinteraksi dengan mahasiswa melalui group telepon, diskusi di forum, atau saran di tugastugas. Banyak mahasiswa yang juga membuat pertemuan lokal dan kelompok belajar online. Dengan adanya kelas online, ini tidak menjadi hambatan untuk membagi ide dan tugas kelompok.
MOOCs merupakan pemicu awal dari munculnya era diskutif
khususnya pada perguruan Tinggi. Perguruan tinggi sebaiknya
menyiapkan diri menghadapi pasar yang terkena imbas perubahan
mendasar dan ”mengacaukan” karena pasar pendidikan berubah dari
berorientasi pada penawaran menjadi permintaan. Konsumenlah yang
menentukan jenis pengetahuan apa yang akan dibelinya; mereka tidak lagi
berminat pada paket mata kuliah yang belum disesuaikan dengan pasar
untuk memperoleh tidak hanya ilmu, tetapi bersamaan dengan itu juga
keterampilan yang diperlukan di pasar kerja. Keadaan tersebut berdampak
pada komposisi mahasiswa dengan status purnawaktu, yang pada
gilirannya juga akan berdampak pada keperluan akan dosen, yang
kemungkinan besar juga tidak banyak dibutuhkan dosen tetap. Oleh karena
itu, perguruan tinggi harus mengubah tujuan segmen pasar yang akan
dilayaninya, yang berkemungkinan besar sangat berbeda dari sekarang.
Dengan adanya kursus secara online dimana konsumen dapat memilih materi sesuai kebutuhan, serta tingkat fleksibilitas yang tinggi serta tidak terbatas ruang dan waktu, tentu hal ini akan menjawa kebutuhan dari para mahasiswa itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan kita saat ini tidak berorientasi pada kebutuhan konsumen itu sendiri namun mereka harus memilih dari paket-paket pendidikan yang sudah ada.
Inovasi diskruptif yang terjadi pada perguruan tinggi khususnya dengan munculnya berbagai cara belajar jarak jauh, serta kursus-kursus secara online yang mulai muncul akan memberikan tantangan, ancaman sekaligus pembaruan dalam cara belajar seseorang. Seperti yang dapat kita lihat saat ini orang lebih suka dan tertarik melihat tutorial yang ada di youtube misalnya untuk memecahkan masalah baru. Bukan lagi bertanya pada guru atau figure yang dianggap mampu. Cara belajar dan kebutuhan yang berubah inilah yang harus disikapi dengan bijak oleh lembaga pendidikan khsusunya di Indonesia. Adopsi teknologi informasi dalam proses pembelajaran merupakan hal yang tidak terhindarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar